Lompat ke isi

PENGUMUMAN

Maaf untuk sementara Blog ini ditutup sampai adanya keputusan dari bidang infokom, untuk informasi dan berhubungan dengan kami silahkan follow twitter kami di @hima_pgsd

LOMBA CERDAS TANGKAS TINGKAT SD SE-KOTA PONTIANAK

Maret 11, 2010

Assalamualaikum Wr. Wb

Tiada kata yang pantas kita ucapkan selain puja dan puji syukur kita kehadirat Allah SWT, yang telah memberikan rahmat kepada kita semua sehingga kita masih bisa merasakan nikmat yang telah diberikan setiap detiknya. Dan juga telah memberikan kemudahan kepada kami khususnya panitia LCT ( Lomba Cerdas Tangkas ) Tingkat SD Se-Kota Pontianak dalam menjalani proses pelaksanaannya. Tidak lupa shalawat serta salam kepada nabi junjungan kita yakni nabi Muhammad SAW beserta sahabat dan para pengikutnya hingga akhir zaman.

Kami sebagai panitia merasa bahagia karena telah melaksanakan salah satu program HMJ PGSD FKIP UNTAN yaitu Lomba Cerdas Tangkas Tingkat SD Se-Kota Pontianak. Kegiatan ini dilaksanakan pada tanggal 27 Februari 2010 yang bertema ““ Dengan LCT Tingkat SD Se-kota Pontianak 2010 Kita  Tingkatkan Prestasi Anak Bangsa  Demi Tercapainya Tujuan Pendidikan Nasional”

Adapun maksud dan tujuan dari kegiatan LCT Tingkat SD Se-Kota Pontianak ini adalah :

ü        Menumbuhkembangkan sikap kepedulian mahasiswa PGSD  terhadap Pendidikan terutama Kalimantan Barat Khususnya Kota Pontianak serta sebagai wujud  pengabdian terhadap dunia pendidikan Nasional.

ü        Menggali potensi dan prestasi akademik anak bangsa untuk menjadi generasi bangsa yang berilmu dan berakhlak mulia sejak dini.

ü        Menumbuhkembangkan motivasi dan minat belajar dalam menutut ilmu untuk menciptakan karya-karya cemerlang dari anak bangsa.

ü        menumbuhkembangkan keberanian anak SD dalam berkompetisi dalam bidang ilmu pengetahuan secara ilmiah dan profesional pada diri anak bangsa sejak dini.

ü        Meningkatkan kecerdasan Intelektual ( IQ ) dan Kecerdasan Emosional ( EQ ) anak SD demi kesuksesan dalam memenuhi kebutuhan anak SD.

ü        Membantu mewujudkan tujuan pendidikan Nasional.

Dalam hal ini panitia mempersiapkan piala bergilir dari Ketua Jurusan Pendidikan Dasar sehingga dapat memotivasi para paserta didik khususnya anak SD untuk berkompetensi dengan sportivitas yang tinggi.

Dan alhamdulillah pelaksanaan   LCT tingkat SD ini diikuti oleh 12 tim dari 9 Sekolah Dasar yaitu sebagai berikut :

  1. SDN 03 Pontianak Selatan
  2. SDN 08 Pontianak Barat
  3. SDN 11 Pontianak Kota
  4. SDN 52 Pontianak Kota
  5. SD Muhammadiyah 2 Pontianak
  6. SDI Al Azhar 21
  7. SD Kristen Immanuel 1 Sisingamangaraja
  8. SD Kristen Immanuel IBC
  9. SD Bawamai Pontianak

Kami sangat berterima kasih sekali kepada peserta LCT yang telah menjunjung tinggi sportivitas dalam berlomba sehingga pelaksanaan dari mulai babak penyisihan, semifinal dan babak final berlangsung secara tertib dan lancar.

Dan yang mendapat juara dalam LCT Tingkat SD tersebut yaitu :

  • Juara 1 diperoleh Sd Muhammadiyah 2 Tim B
  • Juara 2 diperoleh SD Muhammadiyah 2 Tim A
  • Juara 3 Diperoleh SD Kristen Immanuel IBC
  • Juara harapan 1 diperoleh SDN 03 Pontianak Selatan
  • Juara Harapan 2 diperoleh SD Kristen Immanuel 1

Kami ucapkan selamat kepada para pemenang yang telah berhasil mengukir prestasi yang gemilang di dunia pendidikan. Semoga prestasi yang diraih akan lebih memotivasi para anak didik untuk melangkah lebih maju demi cita – cita yang di inginkan. Dan kepada yang belum berpeluang menjadi pemenang, janganlah menyerah dan putus asa, karena kegagalan adalah kesuksesan yang tertunda, maka teruslah belajar untuk meraih prestasi yang kita harapkan,

Teruslah berprestasi untuk menggapai cita – cita yang  tinggi………keep spirit…

Volsebas Pgsd Competition Sebagai Wadah Membentuk Mahasiswa Yang Kompetitif

Februari 23, 2010

Alhamdulillah… Puji syukur kami haturkan kehadiran allah SWT tuhan yang Maha Esa. Atas berkat dan rahmatnyalah kegiatan VOLSEBAS PGSD COMPETITION’09 dapat berjalan dengan baik.

Berawal dari aspirasi mahasiswa PGSD yang mengaspirasikan ide atau gagasan kepada dewan perwakilan kelas (DPK) mengenai diadakannya suatu  kegiatan di bidang olahraga selain event yang menjadi budaya/tradisi di PGSD yakni PORSENI PGSD/PORSENI kampus II FKIP UNTAN.Ide atau gagasan ini disalurkan DPK , bersama HMJ PGSD  membentuk forum kecil untuk membahas mengenai diadakannya suatu kegiatan di bidang olahraga ini.Dan pada akhirnya kegiatan ini terputuskan untuk diadakan dengan nama VOLLEY SEPAK BOLA BASKET (VOLSEBAS) PGSD COMPETITION”09 .

Kegiatan ini menjadi seolah-olah harus dilaksanakan yakni karena alasan-alasan Sebagai berikut:

  • Potensi mahasiswa yang perlu dikembangkan demi membentuk guru yang bermutu.
  • Manfaat olahraga yang sangat banyak/besar .
  • Secara langsung maupun tidak, dapat mengaktifkan Ekskul yang ada sehingga fasilitas yang tersedia dimanfaatkan lebih optimal dan mendapatkan mahasiswa yang berkompeten dan kompetitif  untuk membela PGSD/ FKIP Untan  dalam event-event yang ada/tersedia.

Setelah terputuskan Volsebas PGSD Competition diadakan , HMJ PGSD yang dipercayakan untuk melaksanakan kegiatan ini membentuk panitia kecil yang terdiri dari :

  1. ketua pelaksana Dwi Cahyadi Wibowo
  2. Sekretaris Eliyadi
  3. Bendahara Subhansyah
  4. Coordinator basketball Rio Pranata dan Nany Safrianty
  5. Koordinator Volleyball Lilis Febrianty dan Wan Muchlis.
  6. Koordinator sepak  bola Adriyan saputra dan Hendra Wijaya.
  7. Seksi konsumsi Fitria
  8. Seksi dokumentasi Fathur Rahman.
  9. Seksi P3K Meri Trinami dan Heru Setiawan.
  10. Yang dibantu Anggota HMJ PGSD 09/10.

Adapun kegiatan yang dilakukan/dilaksanakan dalam kegiatan ini yakni :

  1. Volleyball putra dan Putri
  2. Sepak bola putra dan Putri
  3. Basket Putra.

Kegiatan Volsebas PGSD Competition ’09 ini ternyata tidak hanya mendapat sorotan dan dukungan dari seluruh mahasiswa  PGSD namun juga dari ketua jurusan pendidikan dasar  beserta para dosen bahkan seluruh warga kampus II FKIP Untan.Ini menunjukkan kualitas dari kegiatan tersebut.

Dalam pelaksanaannya yakni dari 21 November 2009 hingga 10 Januari 2010 , panitia penyelenggara berupaya memberikan yang terbaik kepada peserta sebagaimana fungsinya sebagai fasilitas yang tetap mengacu pada koridor petunjuk pelaksanaan(Juklak) dan Petunjuk teknis (Juknis). Para peserta kegiatan ini sangat bersemangat dan sangat antusias.Kegiatan ini pun menjadi sangat memacu adrenalin para peserta namun fairplay dan sportivitas tetap terbangun diantara peserta dari awal kegiatan sampai akhir kegiatan ini.

Semoga kegiatan yang bermanfaat seperti ini dapat terus dilakukan, diciptakan , dan terus menjadi inspirasi kita untuk pengembangan kualitas sumber daya manusia Indonesia demi tercapainya tujuan yang telah teramanatkan pada UUD 1945 umumnya dan UU SPN no 20 tahun 2003 khususnya.Amin.

Created by Field jack 2610

Kembalikan Ruh Ibu sebagai Guru Sejati dalam Pembentukan Karakter Anak

Februari 23, 2010

Puluhan siswa SMK Budi Utomo, ditanglap polisi saat sebelum melakukan tawuran dengan SMA Fransiskus, di jalan Dr. Soetomo, Jakarta Pusat Jum’at ( OkeZone, 20 Februari 2009). Di Bandung anak-anak muda dengan bangga menjadi anggota geng motor, seolah-olah tiadk ada penyaluran lain yang positif untuk aktualisasi kaum muda. Kemudian, data Republika Online (6/8/09), hingga Maret 2009, di Jawa Barat, penderita terbanyak HIV/AIDS adalah usia produktif. Dari 4.520 kasus, 2.573 adalah mereka berusia antara 20-29 tahun, 90 kasus berusia 15- 19 tahun. Sebanyak 66 % penularannya melalui jarum suntik narkoba. Sisanya melalui transmisi seksual dan penularan oleh ibu ke anaknya. Data tersebut konsisten dalam kondisi yang relatif sama. Artinya diperlukan peningkatan intensitas gerakan untuk memeranginya. Tentu tidak ada orang apalagi seorang ibu menginginkan anaknya terlibat dengan kasus itu, apalagi menularkan HIV/AIDS kepada anak kandungnya sendiri, meski sudah ada kasus seperti ini. Yang sangat ironis, pengguna narkoba masih usia remaja yang memerlukan pendampingan dan pengawasan orang tua. Tampaknya, penanganan kasus ini memerlukan gerakan yang simultan dari semua komponen potensial. Ibarat penyakit, diperlukan diagnosa yang akurat sehingga obatnya juga ampuh.

Dewasa ini, kita memang telah mengenal adanya potensi EQ (kecerdasan emosi) yang dipopulerkan oleh Dan Goleman. Juga ada SQ (kecerdasan spiritual) yang dibahas secara menarik oleh Danah Zohar dan Ian Marshall. Lantas ada pula kecerdasan majemuk (multiple intelligences) yang ditemukan Howard Gardner. Betapa kayanya potensi anak didik jika merujuk ke temuan-temuan itu?

Jika sekolah hanya menekankan pengembangan kognitif, betapa sayangnya upaya-upaya yang dilakukan oleh pendidikan kita. Mungkin, kata “holistik” yang digunakan bertujuan agar pendidikan benar-benar dapat menggarap seluruh potensi anak didik yang ada ya? Lantas, apa itu karakter?

Menurut Wynne, istilah karakter diambil dari bahasa Yunani yang berarti ‘to mark’ (menandai). “Istilah ini lebih fokus pada tindakan atau tingkah laku. Wynne mengatakan bahwa ada dua pengertian tentang karakter. Pertama, ia menunjukkan bagaimana seseorang bertingkah laku. Apabila seseorang berperilaku tidak jujur, kejam, atau rakus, tentulah orang tersebut memanifestasikan perilaku buruk. Sebaliknya, apabila seseorang berperilaku jujur, suka menolong, tentulah orang tersebut memanifestasikan karakter mulia. Kedua, istilah karakter erat kaitannya dengan ‘personality’. Seseorang baru bisa disebut ‘orang yang berkarakter’ (a person of character) apabila tingkah lakunya sesuai kaidah moral.”

Domain pendidikan yang dialami anak atau siapa saja hanya empat. Pertama, keluarga sebagai basis utama dan awal mula pendidikan bagi anak. Tentu Guru yang sejati di rumah adalah ibu anak-anak. Kedua, sekolah dengan guru sebagai pendidik yang membimbing, melatih dan mengarahkan anak, bukan sekedar belajar bidang studi. Ketiga, anak juga seyogianya memperoleh pendidikan pada masyarakat. Suasana sekolah sebaiknya tidak berbeda dengan suasana di masyarakat agar anak dapat menginternalisasi nilai sekolah dan nilai masyarakat. Keempat, tempat bekerja, instansi, perusahaan dan lain sebagainya juga tempat pendidikan.

Jika keempat domain ini tidak ditata simultan maka sangat sulit untuk mendorong pendidikan sebagai pilar perbaikan moral dan daya saing bangsa. Jika pendidikan negeri ini ingin kuat dan berhasil dalam arti komprehensif maka (1) kembalikan para ibu menjadi guru sejati bagi anak-anaknya, (2) hadirkan guru di sekolah, bukan sekedar pengajar bidang studi, (3) ciptakan suasana yang kondusif di masyarakat lewat kekuasaan para pemegang mandat publik, dan (4) bersihkan seluruh instansi dan lembaga manapun dari praktik-praktik anti pendidikan. Jika jenjang karir di instansi tidak berbasis kompetensi, inilah yang secara nyata mengancam pilar-pilar pendidikan.

Peran ibu jaman sekarang berbeda dengan jaman Kartini. Peran ibu jaman Kartini hanya sebagai koncho wingking sedangkan jaman sekarang multiperan yaitu sebagai ibu rumah tangga, peran sebagai anggota masyarakat, serta peran sebagai wanita karier. Peran sebagai ibu rumah tangga merupakan peran utama dan pertama khususnya dalam hal mendidik putra putrinya di masa balita dan tingkat sekolah dasar. Hal ini penting karena sebagai landasan di masa mendatang. Ibu merupakan figur pengemban tugas penting yang tidak dapat tergantikan, yakni sebagai pengatur rumah tangga. Ibu adalah satu sosok mulia yang penuh jasa bagi manusia. Di dalam tubuhnyalah embrio-embrio manusia telah bersarang selama kurang lebih 9 bulan, sebelum akhirnya terlahir ke dunia. Melalui rahimnyalah, generasi-generasi manusia terlahir. Melalui air susunyalah, manusia mendapatkan asupan makanan terbaik dan bergizi di awal kehidupannya.

Begitu banyak peran vital seorang ibu yang tidak bisa digantikan oleh laki-laki, maka tak salah kalau ibu merupakan satu sosok yang patut dimuliakan. Selain mengandung, melahirkan, dan menyusui, seorang ibu juga memiliki kewajiban untuk memberikan pendidikan kepada anak sejak usia dini. Ibu merupakan sekolah pertama bagi anak. Hal ini karena interaksi pertama yang dilakukan oleh seorang anak adalah dengan seorang ibu. Ibu merupakan sosok yang pertama kali memberikan perlindungan dan rasa aman kepada seorang anak. Dan ibu pulalah yang pertama kali dipatuhi oleh seorang anak, karena ibu memberikan rasa nyaman kepada anaknya. Di sini dapat terlihat kembali betapa besarnya peranan seorang ibu dalam pembentukan karakter masa depan seorang anak. Dan artinya, seorang ibu memiliki peranan besar dalam pembentukan masa depan suatu bangsa dan negara. Karena, anak merupakan cikal bakal yang akan membawa masa depan suatu bangsa dan negara.

Seorang ibu mampu menjadi guru jika dikembalikan menjadi mahluk yang berilmu, lembut, dan penuh kesabaran. Tidak wajar memerangi poligami, sementara banyak wanita yang diperlakukan tidak wajar bahkan berprofesi tidak wajar tidak digubris maksimal. Mungkin lembaga manapun yang mengklaim irinya sebagai pejuang perempuan, gerakan mengembalikan ibu kandung menjadi guru bagi anaknya adalah jauh lebih penting dari pada memperjuangkan persamaan gender yang nyaris meminimumkan perannya sebagai guru anak-anaknya.

Persamaan gender amat tidak relevan manakala gerakan itu akan menipiskan peran ibu sebagai mahluk lembut yang dapat menaklukkan kenakalan seorang anak. Kenakalan yang potensial menjadi kejahatan tidak dapat ditangani dengan pendekatan hukum, tetapi hanya dengan kasih sayang dan kelembutan hati serta kesabaran seorang Ibu.

Bangsa yang kuat adalah bangsa yang memiliki wanita yang kuat, khususnya sebagai ibu-ibu yang sejati. Tentu masih banyak Ibu yang memerankan dirinya sebagai guru bagi anak-anaknya. Tetapi juga adalah fakta yang tak terbantahkan, kejahatan yang dilakukan remaja sangat berkorelasi dengan hilangnya kendali kasih sayang seorang ibu kandung atas berbagai alasan yang disebutkan diatas.

Jika ingin negeri ini menjadi negeri yang kuat dan bermartabat, kembalikan Ibu menjadi mahluk berilmu yang lembut serta penuh kesabaran sebagai guru sejati bagi anak-anaknya. Sehingga Karakter anak-anak bangsa di masa depan menjadi dambaan setiap orang.

By: oktoriyadi

Pekan Ilmiah Mahasiswa Nasional sebagai Ajang Tradisi Kreativitas

Juli 30, 2009

PIMNAS XXIIPekan Ilmiah Mahasiswa Nasional (PIMNAS) dapat dijadikan sebagai ajang tradisi kreativitas. Sebuah kegiatan yang melahirkan kreativitas dikembangkan oleh para mahasiswa. Menteri Pendidikan Nasional (Mendiknas) Bambang Sudibyo berharap, hasil kreativitas ini mampu menyumbangkan suatu kebaruan dalam ilmu pengetahuan dan teknologi (iptek) maupun seni yang betul – betul nyata.

“Otomatis sisi lain dari nilai kebaruan adalah nilai orisinalitas, yang tidak orisinil itu hanya replikasi saja. Nilai kebaruannya sangat rendah. Antara kreativitas dan orisinalitas adalah dua sisi dari mata uang yang sama. Kita junjung tinggi betul orisinalitas, di satu sisi kita juga hargai setinggi – tingginya kreativitas,” kata Mendiknas pada pembukaan PIMNAS XXII 2009 di Universitas Brawijaya, Malang, Jawa Timur, Rabu (22/07/2009) .

Tema kegiatan ini adalah Mengukir Prestasi untuk Meningkatkan Daya Saing Bangsa Guna Membangun Negeri. Sebanyak 1.565 mahasiswa peserta yang berasal dari 119 perguruan tinggi baik negeri maupun swasta akan mengikuti berbagai kompetisi ilmiah. Kategori lomba meliputi program kreativitas mahasiswa (PKM) penelitian, PKM teknologi, PKM pengabdian masyarakat, PKM kewirausahaan, dan PKM gagasan tertulis.

Mendiknas mengatakan, keinginan bangsa ini untuk mengembangkan ekonomi yang berbasis kepada kreativitas atau ekonomi kreatif harus didukung secara masal oleh manusia – manusia yang kreatif. Sektor pendidikan, kata Mendiknas, mempunyai tugas untuk menyiapkan manusia kreatif itu. “Untuk melahirkan dunia pendidikan khususnya yang mendukung pendidikan kreatif maka dibutuhkan kebijakan makro dan kebijakan mikro di masing-masing lembaga pendidikan,” katanya.

Mendiknas menjelaskan, kebijakan pada tingkat makro yakni adalah memberikan otonomi yang optimal kepada setiap satuan pendidikan. Menurut Mendiknas, kebijakan itu yang melatarbelakangi lahirnya Undang – Undang Badan Hukum Pendidikan.” Tujuannya adalah untuk memperlakukan satuan pendidikan terutama pendidikan tinggi semuanya otonom. Dengan diotonomkan maka setiap pendidikan tinggi diberikan kewenangan penuh untuk melakukan penjaminan mutu pendidikan, sehingga mereka memiliki ruang gerak yang leluasa untuk menjadi world class,” katanya.

Kemudian, kata Mendiknas, kebijakan pada tingkat mikro di masing – masing perguruan tinggi harus ada orientasi untuk kreativitas, inovasi, enterpreneurship, dan kemandirian. Menurut Mendiknas, ada beberapa sumber kreativitas yang bisa dieksploitasi oleh masing – masing perguruan tinggi. Pertama, kata Mendiknas, adalah kurikulum yang berbasis kompetensi dan bukan berbasis isi. “Kurikulum itu harus menjamin ketika seorang mahasiswa lulus dari satuan pendidikan dia mencapai kompetensi minimal seperti apa?” katanya.

Kedua, lanjut Mendiknas, adalah pendidikan bahasa, matematika, dan sain. Untuk menjadi kreatif, kata Mendiknas, maka harus memiliki basis logika yang kuat. Logika itu dibentuk melalui kompetensi bahasa. Semakin kuat bahasa seseorang semakin kuat pula logikanya. Selanjutnya, semakin kuat basis sain maka semakin kuat pula logika seseorang. “Logika dalam wujud formal yang disederhanakan dalam bentuk rumus – rumus adalah matematika.Tiga hal ini menjadi sangat penting,” tegas Mendiknas.

Mendiknas mengatakan, peluang untuk kreatif lainnya yang sangat besar adalah melalui teknologi dan kreativitas yang berbasis pada otak kanan seperti seni. “Kompetensi seni itu memberikan peluang untuk kreatif dan inovatif yang sangat besar dan hampir tidak terbatas, sehingga penting pendidikan seni atau pendidikan estetik. Satu hal lagi adalah pendidikan hati,” katanya.

Rektor Universitas Brawijaya Yogi Sugito mengatakan, kegiatan PIMNAS dirangkai dengan berbagai macam kegiatan diantaranya adalah debat bahasa Inggris, kompetensi karya tulis Alquran, gelar iptek, lomba poster, pameran, dan bazar. Dia berharap, melalui PIMNAS, selain akan bermunculan generasi penerus bangsa sebagai pelopor dan penggerak pembangunan, juga hasil – hasil iptek baru yang dikompetisikan dalam PIMNAS ini dapat dimanfaatkan oleh masyarakat untuk meningkatkan kesejahteraan melalui terbentuknya unit – unit usaha baru. (depdiknas)

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.