Skip to content

PENGUMUMAN

Maaf untuk sementara Blog ini ditutup sampai adanya keputusan dari bidang infokom, untuk informasi dan berhubungan dengan kami silahkan follow twitter kami di @hima_pgsd

LOMBA CERDAS TANGKAS TINGKAT SD SE-KOTA PONTIANAK

Maret 11, 2010

Assalamualaikum Wr. Wb

Tiada kata yang pantas kita ucapkan selain puja dan puji syukur kita kehadirat Allah SWT, yang telah memberikan rahmat kepada kita semua sehingga kita masih bisa merasakan nikmat yang telah diberikan setiap detiknya. Dan juga telah memberikan kemudahan kepada kami khususnya panitia LCT ( Lomba Cerdas Tangkas ) Tingkat SD Se-Kota Pontianak dalam menjalani proses pelaksanaannya. Tidak lupa shalawat serta salam kepada nabi junjungan kita yakni nabi Muhammad SAW beserta sahabat dan para pengikutnya hingga akhir zaman.

Kami sebagai panitia merasa bahagia karena telah melaksanakan salah satu program HMJ PGSD FKIP UNTAN yaitu Lomba Cerdas Tangkas Tingkat SD Se-Kota Pontianak. Kegiatan ini dilaksanakan pada tanggal 27 Februari 2010 yang bertema ““ Dengan LCT Tingkat SD Se-kota Pontianak 2010 Kita  Tingkatkan Prestasi Anak Bangsa  Demi Tercapainya Tujuan Pendidikan Nasional”

Adapun maksud dan tujuan dari kegiatan LCT Tingkat SD Se-Kota Pontianak ini adalah :

ü        Menumbuhkembangkan sikap kepedulian mahasiswa PGSD  terhadap Pendidikan terutama Kalimantan Barat Khususnya Kota Pontianak serta sebagai wujud  pengabdian terhadap dunia pendidikan Nasional.

ü        Menggali potensi dan prestasi akademik anak bangsa untuk menjadi generasi bangsa yang berilmu dan berakhlak mulia sejak dini.

ü        Menumbuhkembangkan motivasi dan minat belajar dalam menutut ilmu untuk menciptakan karya-karya cemerlang dari anak bangsa.

ü        menumbuhkembangkan keberanian anak SD dalam berkompetisi dalam bidang ilmu pengetahuan secara ilmiah dan profesional pada diri anak bangsa sejak dini.

ü        Meningkatkan kecerdasan Intelektual ( IQ ) dan Kecerdasan Emosional ( EQ ) anak SD demi kesuksesan dalam memenuhi kebutuhan anak SD.

ü        Membantu mewujudkan tujuan pendidikan Nasional.

Dalam hal ini panitia mempersiapkan piala bergilir dari Ketua Jurusan Pendidikan Dasar sehingga dapat memotivasi para paserta didik khususnya anak SD untuk berkompetensi dengan sportivitas yang tinggi.

Dan alhamdulillah pelaksanaan   LCT tingkat SD ini diikuti oleh 12 tim dari 9 Sekolah Dasar yaitu sebagai berikut :

  1. SDN 03 Pontianak Selatan
  2. SDN 08 Pontianak Barat
  3. SDN 11 Pontianak Kota
  4. SDN 52 Pontianak Kota
  5. SD Muhammadiyah 2 Pontianak
  6. SDI Al Azhar 21
  7. SD Kristen Immanuel 1 Sisingamangaraja
  8. SD Kristen Immanuel IBC
  9. SD Bawamai Pontianak

Kami sangat berterima kasih sekali kepada peserta LCT yang telah menjunjung tinggi sportivitas dalam berlomba sehingga pelaksanaan dari mulai babak penyisihan, semifinal dan babak final berlangsung secara tertib dan lancar.

Dan yang mendapat juara dalam LCT Tingkat SD tersebut yaitu :

  • Juara 1 diperoleh Sd Muhammadiyah 2 Tim B
  • Juara 2 diperoleh SD Muhammadiyah 2 Tim A
  • Juara 3 Diperoleh SD Kristen Immanuel IBC
  • Juara harapan 1 diperoleh SDN 03 Pontianak Selatan
  • Juara Harapan 2 diperoleh SD Kristen Immanuel 1

Kami ucapkan selamat kepada para pemenang yang telah berhasil mengukir prestasi yang gemilang di dunia pendidikan. Semoga prestasi yang diraih akan lebih memotivasi para anak didik untuk melangkah lebih maju demi cita – cita yang di inginkan. Dan kepada yang belum berpeluang menjadi pemenang, janganlah menyerah dan putus asa, karena kegagalan adalah kesuksesan yang tertunda, maka teruslah belajar untuk meraih prestasi yang kita harapkan,

Teruslah berprestasi untuk menggapai cita – cita yang  tinggi………keep spirit…

Volsebas Pgsd Competition Sebagai Wadah Membentuk Mahasiswa Yang Kompetitif

Februari 23, 2010

Alhamdulillah… Puji syukur kami haturkan kehadiran allah SWT tuhan yang Maha Esa. Atas berkat dan rahmatnyalah kegiatan VOLSEBAS PGSD COMPETITION’09 dapat berjalan dengan baik.

Berawal dari aspirasi mahasiswa PGSD yang mengaspirasikan ide atau gagasan kepada dewan perwakilan kelas (DPK) mengenai diadakannya suatu  kegiatan di bidang olahraga selain event yang menjadi budaya/tradisi di PGSD yakni PORSENI PGSD/PORSENI kampus II FKIP UNTAN.Ide atau gagasan ini disalurkan DPK , bersama HMJ PGSD  membentuk forum kecil untuk membahas mengenai diadakannya suatu kegiatan di bidang olahraga ini.Dan pada akhirnya kegiatan ini terputuskan untuk diadakan dengan nama VOLLEY SEPAK BOLA BASKET (VOLSEBAS) PGSD COMPETITION”09 .

Kegiatan ini menjadi seolah-olah harus dilaksanakan yakni karena alasan-alasan Sebagai berikut:

  • Potensi mahasiswa yang perlu dikembangkan demi membentuk guru yang bermutu.
  • Manfaat olahraga yang sangat banyak/besar .
  • Secara langsung maupun tidak, dapat mengaktifkan Ekskul yang ada sehingga fasilitas yang tersedia dimanfaatkan lebih optimal dan mendapatkan mahasiswa yang berkompeten dan kompetitif  untuk membela PGSD/ FKIP Untan  dalam event-event yang ada/tersedia.

Setelah terputuskan Volsebas PGSD Competition diadakan , HMJ PGSD yang dipercayakan untuk melaksanakan kegiatan ini membentuk panitia kecil yang terdiri dari :

  1. ketua pelaksana Dwi Cahyadi Wibowo
  2. Sekretaris Eliyadi
  3. Bendahara Subhansyah
  4. Coordinator basketball Rio Pranata dan Nany Safrianty
  5. Koordinator Volleyball Lilis Febrianty dan Wan Muchlis.
  6. Koordinator sepak  bola Adriyan saputra dan Hendra Wijaya.
  7. Seksi konsumsi Fitria
  8. Seksi dokumentasi Fathur Rahman.
  9. Seksi P3K Meri Trinami dan Heru Setiawan.
  10. Yang dibantu Anggota HMJ PGSD 09/10.

Adapun kegiatan yang dilakukan/dilaksanakan dalam kegiatan ini yakni :

  1. Volleyball putra dan Putri
  2. Sepak bola putra dan Putri
  3. Basket Putra.

Kegiatan Volsebas PGSD Competition ’09 ini ternyata tidak hanya mendapat sorotan dan dukungan dari seluruh mahasiswa  PGSD namun juga dari ketua jurusan pendidikan dasar  beserta para dosen bahkan seluruh warga kampus II FKIP Untan.Ini menunjukkan kualitas dari kegiatan tersebut.

Dalam pelaksanaannya yakni dari 21 November 2009 hingga 10 Januari 2010 , panitia penyelenggara berupaya memberikan yang terbaik kepada peserta sebagaimana fungsinya sebagai fasilitas yang tetap mengacu pada koridor petunjuk pelaksanaan(Juklak) dan Petunjuk teknis (Juknis). Para peserta kegiatan ini sangat bersemangat dan sangat antusias.Kegiatan ini pun menjadi sangat memacu adrenalin para peserta namun fairplay dan sportivitas tetap terbangun diantara peserta dari awal kegiatan sampai akhir kegiatan ini.

Semoga kegiatan yang bermanfaat seperti ini dapat terus dilakukan, diciptakan , dan terus menjadi inspirasi kita untuk pengembangan kualitas sumber daya manusia Indonesia demi tercapainya tujuan yang telah teramanatkan pada UUD 1945 umumnya dan UU SPN no 20 tahun 2003 khususnya.Amin.

Created by Field jack 2610

Kembalikan Ruh Ibu sebagai Guru Sejati dalam Pembentukan Karakter Anak

Februari 23, 2010

Puluhan siswa SMK Budi Utomo, ditanglap polisi saat sebelum melakukan tawuran dengan SMA Fransiskus, di jalan Dr. Soetomo, Jakarta Pusat Jum’at ( OkeZone, 20 Februari 2009). Di Bandung anak-anak muda dengan bangga menjadi anggota geng motor, seolah-olah tiadk ada penyaluran lain yang positif untuk aktualisasi kaum muda. Kemudian, data Republika Online (6/8/09), hingga Maret 2009, di Jawa Barat, penderita terbanyak HIV/AIDS adalah usia produktif. Dari 4.520 kasus, 2.573 adalah mereka berusia antara 20-29 tahun, 90 kasus berusia 15- 19 tahun. Sebanyak 66 % penularannya melalui jarum suntik narkoba. Sisanya melalui transmisi seksual dan penularan oleh ibu ke anaknya. Data tersebut konsisten dalam kondisi yang relatif sama. Artinya diperlukan peningkatan intensitas gerakan untuk memeranginya. Tentu tidak ada orang apalagi seorang ibu menginginkan anaknya terlibat dengan kasus itu, apalagi menularkan HIV/AIDS kepada anak kandungnya sendiri, meski sudah ada kasus seperti ini. Yang sangat ironis, pengguna narkoba masih usia remaja yang memerlukan pendampingan dan pengawasan orang tua. Tampaknya, penanganan kasus ini memerlukan gerakan yang simultan dari semua komponen potensial. Ibarat penyakit, diperlukan diagnosa yang akurat sehingga obatnya juga ampuh.

Dewasa ini, kita memang telah mengenal adanya potensi EQ (kecerdasan emosi) yang dipopulerkan oleh Dan Goleman. Juga ada SQ (kecerdasan spiritual) yang dibahas secara menarik oleh Danah Zohar dan Ian Marshall. Lantas ada pula kecerdasan majemuk (multiple intelligences) yang ditemukan Howard Gardner. Betapa kayanya potensi anak didik jika merujuk ke temuan-temuan itu?

Jika sekolah hanya menekankan pengembangan kognitif, betapa sayangnya upaya-upaya yang dilakukan oleh pendidikan kita. Mungkin, kata “holistik” yang digunakan bertujuan agar pendidikan benar-benar dapat menggarap seluruh potensi anak didik yang ada ya? Lantas, apa itu karakter?

Menurut Wynne, istilah karakter diambil dari bahasa Yunani yang berarti ‘to mark’ (menandai). “Istilah ini lebih fokus pada tindakan atau tingkah laku. Wynne mengatakan bahwa ada dua pengertian tentang karakter. Pertama, ia menunjukkan bagaimana seseorang bertingkah laku. Apabila seseorang berperilaku tidak jujur, kejam, atau rakus, tentulah orang tersebut memanifestasikan perilaku buruk. Sebaliknya, apabila seseorang berperilaku jujur, suka menolong, tentulah orang tersebut memanifestasikan karakter mulia. Kedua, istilah karakter erat kaitannya dengan ‘personality’. Seseorang baru bisa disebut ‘orang yang berkarakter’ (a person of character) apabila tingkah lakunya sesuai kaidah moral.”

Domain pendidikan yang dialami anak atau siapa saja hanya empat. Pertama, keluarga sebagai basis utama dan awal mula pendidikan bagi anak. Tentu Guru yang sejati di rumah adalah ibu anak-anak. Kedua, sekolah dengan guru sebagai pendidik yang membimbing, melatih dan mengarahkan anak, bukan sekedar belajar bidang studi. Ketiga, anak juga seyogianya memperoleh pendidikan pada masyarakat. Suasana sekolah sebaiknya tidak berbeda dengan suasana di masyarakat agar anak dapat menginternalisasi nilai sekolah dan nilai masyarakat. Keempat, tempat bekerja, instansi, perusahaan dan lain sebagainya juga tempat pendidikan.

Jika keempat domain ini tidak ditata simultan maka sangat sulit untuk mendorong pendidikan sebagai pilar perbaikan moral dan daya saing bangsa. Jika pendidikan negeri ini ingin kuat dan berhasil dalam arti komprehensif maka (1) kembalikan para ibu menjadi guru sejati bagi anak-anaknya, (2) hadirkan guru di sekolah, bukan sekedar pengajar bidang studi, (3) ciptakan suasana yang kondusif di masyarakat lewat kekuasaan para pemegang mandat publik, dan (4) bersihkan seluruh instansi dan lembaga manapun dari praktik-praktik anti pendidikan. Jika jenjang karir di instansi tidak berbasis kompetensi, inilah yang secara nyata mengancam pilar-pilar pendidikan.

Peran ibu jaman sekarang berbeda dengan jaman Kartini. Peran ibu jaman Kartini hanya sebagai koncho wingking sedangkan jaman sekarang multiperan yaitu sebagai ibu rumah tangga, peran sebagai anggota masyarakat, serta peran sebagai wanita karier. Peran sebagai ibu rumah tangga merupakan peran utama dan pertama khususnya dalam hal mendidik putra putrinya di masa balita dan tingkat sekolah dasar. Hal ini penting karena sebagai landasan di masa mendatang. Ibu merupakan figur pengemban tugas penting yang tidak dapat tergantikan, yakni sebagai pengatur rumah tangga. Ibu adalah satu sosok mulia yang penuh jasa bagi manusia. Di dalam tubuhnyalah embrio-embrio manusia telah bersarang selama kurang lebih 9 bulan, sebelum akhirnya terlahir ke dunia. Melalui rahimnyalah, generasi-generasi manusia terlahir. Melalui air susunyalah, manusia mendapatkan asupan makanan terbaik dan bergizi di awal kehidupannya.

Begitu banyak peran vital seorang ibu yang tidak bisa digantikan oleh laki-laki, maka tak salah kalau ibu merupakan satu sosok yang patut dimuliakan. Selain mengandung, melahirkan, dan menyusui, seorang ibu juga memiliki kewajiban untuk memberikan pendidikan kepada anak sejak usia dini. Ibu merupakan sekolah pertama bagi anak. Hal ini karena interaksi pertama yang dilakukan oleh seorang anak adalah dengan seorang ibu. Ibu merupakan sosok yang pertama kali memberikan perlindungan dan rasa aman kepada seorang anak. Dan ibu pulalah yang pertama kali dipatuhi oleh seorang anak, karena ibu memberikan rasa nyaman kepada anaknya. Di sini dapat terlihat kembali betapa besarnya peranan seorang ibu dalam pembentukan karakter masa depan seorang anak. Dan artinya, seorang ibu memiliki peranan besar dalam pembentukan masa depan suatu bangsa dan negara. Karena, anak merupakan cikal bakal yang akan membawa masa depan suatu bangsa dan negara.

Seorang ibu mampu menjadi guru jika dikembalikan menjadi mahluk yang berilmu, lembut, dan penuh kesabaran. Tidak wajar memerangi poligami, sementara banyak wanita yang diperlakukan tidak wajar bahkan berprofesi tidak wajar tidak digubris maksimal. Mungkin lembaga manapun yang mengklaim irinya sebagai pejuang perempuan, gerakan mengembalikan ibu kandung menjadi guru bagi anaknya adalah jauh lebih penting dari pada memperjuangkan persamaan gender yang nyaris meminimumkan perannya sebagai guru anak-anaknya.

Persamaan gender amat tidak relevan manakala gerakan itu akan menipiskan peran ibu sebagai mahluk lembut yang dapat menaklukkan kenakalan seorang anak. Kenakalan yang potensial menjadi kejahatan tidak dapat ditangani dengan pendekatan hukum, tetapi hanya dengan kasih sayang dan kelembutan hati serta kesabaran seorang Ibu.

Bangsa yang kuat adalah bangsa yang memiliki wanita yang kuat, khususnya sebagai ibu-ibu yang sejati. Tentu masih banyak Ibu yang memerankan dirinya sebagai guru bagi anak-anaknya. Tetapi juga adalah fakta yang tak terbantahkan, kejahatan yang dilakukan remaja sangat berkorelasi dengan hilangnya kendali kasih sayang seorang ibu kandung atas berbagai alasan yang disebutkan diatas.

Jika ingin negeri ini menjadi negeri yang kuat dan bermartabat, kembalikan Ibu menjadi mahluk berilmu yang lembut serta penuh kesabaran sebagai guru sejati bagi anak-anaknya. Sehingga Karakter anak-anak bangsa di masa depan menjadi dambaan setiap orang.

By: oktoriyadi

Pekan Ilmiah Mahasiswa Nasional sebagai Ajang Tradisi Kreativitas

Juli 30, 2009

PIMNAS XXIIPekan Ilmiah Mahasiswa Nasional (PIMNAS) dapat dijadikan sebagai ajang tradisi kreativitas. Sebuah kegiatan yang melahirkan kreativitas dikembangkan oleh para mahasiswa. Menteri Pendidikan Nasional (Mendiknas) Bambang Sudibyo berharap, hasil kreativitas ini mampu menyumbangkan suatu kebaruan dalam ilmu pengetahuan dan teknologi (iptek) maupun seni yang betul – betul nyata.

“Otomatis sisi lain dari nilai kebaruan adalah nilai orisinalitas, yang tidak orisinil itu hanya replikasi saja. Nilai kebaruannya sangat rendah. Antara kreativitas dan orisinalitas adalah dua sisi dari mata uang yang sama. Kita junjung tinggi betul orisinalitas, di satu sisi kita juga hargai setinggi – tingginya kreativitas,” kata Mendiknas pada pembukaan PIMNAS XXII 2009 di Universitas Brawijaya, Malang, Jawa Timur, Rabu (22/07/2009) .

Tema kegiatan ini adalah Mengukir Prestasi untuk Meningkatkan Daya Saing Bangsa Guna Membangun Negeri. Sebanyak 1.565 mahasiswa peserta yang berasal dari 119 perguruan tinggi baik negeri maupun swasta akan mengikuti berbagai kompetisi ilmiah. Kategori lomba meliputi program kreativitas mahasiswa (PKM) penelitian, PKM teknologi, PKM pengabdian masyarakat, PKM kewirausahaan, dan PKM gagasan tertulis.

Mendiknas mengatakan, keinginan bangsa ini untuk mengembangkan ekonomi yang berbasis kepada kreativitas atau ekonomi kreatif harus didukung secara masal oleh manusia – manusia yang kreatif. Sektor pendidikan, kata Mendiknas, mempunyai tugas untuk menyiapkan manusia kreatif itu. “Untuk melahirkan dunia pendidikan khususnya yang mendukung pendidikan kreatif maka dibutuhkan kebijakan makro dan kebijakan mikro di masing-masing lembaga pendidikan,” katanya.

Mendiknas menjelaskan, kebijakan pada tingkat makro yakni adalah memberikan otonomi yang optimal kepada setiap satuan pendidikan. Menurut Mendiknas, kebijakan itu yang melatarbelakangi lahirnya Undang – Undang Badan Hukum Pendidikan.” Tujuannya adalah untuk memperlakukan satuan pendidikan terutama pendidikan tinggi semuanya otonom. Dengan diotonomkan maka setiap pendidikan tinggi diberikan kewenangan penuh untuk melakukan penjaminan mutu pendidikan, sehingga mereka memiliki ruang gerak yang leluasa untuk menjadi world class,” katanya.

Kemudian, kata Mendiknas, kebijakan pada tingkat mikro di masing – masing perguruan tinggi harus ada orientasi untuk kreativitas, inovasi, enterpreneurship, dan kemandirian. Menurut Mendiknas, ada beberapa sumber kreativitas yang bisa dieksploitasi oleh masing – masing perguruan tinggi. Pertama, kata Mendiknas, adalah kurikulum yang berbasis kompetensi dan bukan berbasis isi. “Kurikulum itu harus menjamin ketika seorang mahasiswa lulus dari satuan pendidikan dia mencapai kompetensi minimal seperti apa?” katanya.

Kedua, lanjut Mendiknas, adalah pendidikan bahasa, matematika, dan sain. Untuk menjadi kreatif, kata Mendiknas, maka harus memiliki basis logika yang kuat. Logika itu dibentuk melalui kompetensi bahasa. Semakin kuat bahasa seseorang semakin kuat pula logikanya. Selanjutnya, semakin kuat basis sain maka semakin kuat pula logika seseorang. “Logika dalam wujud formal yang disederhanakan dalam bentuk rumus – rumus adalah matematika.Tiga hal ini menjadi sangat penting,” tegas Mendiknas.

Mendiknas mengatakan, peluang untuk kreatif lainnya yang sangat besar adalah melalui teknologi dan kreativitas yang berbasis pada otak kanan seperti seni. “Kompetensi seni itu memberikan peluang untuk kreatif dan inovatif yang sangat besar dan hampir tidak terbatas, sehingga penting pendidikan seni atau pendidikan estetik. Satu hal lagi adalah pendidikan hati,” katanya.

Rektor Universitas Brawijaya Yogi Sugito mengatakan, kegiatan PIMNAS dirangkai dengan berbagai macam kegiatan diantaranya adalah debat bahasa Inggris, kompetensi karya tulis Alquran, gelar iptek, lomba poster, pameran, dan bazar. Dia berharap, melalui PIMNAS, selain akan bermunculan generasi penerus bangsa sebagai pelopor dan penggerak pembangunan, juga hasil – hasil iptek baru yang dikompetisikan dalam PIMNAS ini dapat dimanfaatkan oleh masyarakat untuk meningkatkan kesejahteraan melalui terbentuknya unit – unit usaha baru. (depdiknas)

Salam Terakhir Ketua HMJ PGSD 08/09

Juli 10, 2009

Assalamu’alaikum Wr……Wb

Salam Mahasiswa

hqm

Segala puji bagi Allah atas semua cinta, kasih-sayang, ridho, magfirah, inayah, rahmat, keselamatan, taufik dan hidayah-Nya yang mengiringi perjalanan kepengurusan HMJ PGSD FKIP UNTAN periode 2008/2009 selama 1 tahun, sehingga menjadi salah satu organisasi yang mampu menjadi stakeholder kegiatan kemahasiswaan di Jurusan Pendidikan Dasar Prodi Pendidikan Guru Sekolah Dasar.

Syalawat dan salam semoga selalu tercurahkan kepada laki-laki terhebat, mentor serta teladan terbaik yang pernah diutus Allah kedunia, yaitu Nabi Muhammad SAW yang selalu menjadi panutan kami dalam melangkah, berbuat dan bertindak.

Kepengurusan HMJ PGSD periode 2008/2009 telah berakhir pada 4 Juli 2009. Tidak terasa satu tahun telah berlalu dan sekarang telah terbentuk kepengurusan HMJ PSGD yang baru. Semoga kepengurusan HMJ PGSD yang berikutnya bisa lebih baik dari yang sebelumnya dari segi kuantitas dan kualitas mutu pengurus, program kerja dan kegiatannya.

Saya mengucapkan terima kasih kepada teman-teman pengurus HMJ PGSD periode 2008/2009, dalam mendukung dan membantu saya dalam mewujudkan visi dan misi kita, dengan cara merealisasikan program kerja yang telah kita rancang bersama. Banyak hal yang telah kita lalui dan kita lakukan, baik dalam bekerja sama maupun dalam menciptakan dan mewujudkan program kerja kita yang baru. Tiada kata yang dapat saya ucapkan kecuali ucapan terima kasih sedalam-dalamnya. Saya juga mengucapkan selamat kepada Ketua terpilih HMJ PGSD 2009/2010, karena melalui proses demokrasi yang alot serta terbentuknya kepengurusan HMJ PGSD yang baru. Saya hanya ingin mengatakan “ Selama jantung masih bisa memompa darah ke seluruh tubuh melalui pembuluh darah kita, Semoga semangat perjuangan mahasiswa yang tidak pernah letih dan mati akan terus dan selalu mengalir serta membakar semangat perjuangan kita sebagai pengurus HMJ PGSD sampai generasi kapanpun, dalam menegakkan panji-panji kebenaran serta  membela kepentingan masyarakat kampus“.

Saya juga ingin meminta ma’af  kepada semua pihak yang pernah tersinggung dan dirugikan baik secara sengaja maupun tidak sengaja, baik secara ucapan, tingkah laku, serta tindakan dan perbuatan yang saya lakukan selama kepemimpinan saya di HMJ PSGD. Semoga saya lebih baik kedepannya.

Pengurus HMJ PGSD yang saya banggakan ;

Kreatifitas mahasiswa itu tidak pernah berhenti dan tidak ada ujungnya. Jangan selalu merasa capek, letih, ragu dan bosan dalam berkreatifitas dan berkarya untuk kepentingan orang lain. Seperti semboyan organisasi kita ” Di saat yang lain hanya bisa melakukan hal yang terbaik untuk dirinya sendiri, kita hadir sebagai orang yang mampu melakukan hal yang lebih dan terbaik bagi orang lain ”. Sampai kita benar-benar dapat berguna dan bermanfaat bagi orang lain. Semoga Allah S.W.T lah yang membalas semua yang kita lakukan. Orang lain boleh mengatakan kita sebagai orang sok sibuk, sok penting dsb tapi kita telah berjalan dan bertindak sesuai ideologi mahasiswa sejati yang telah terpatri dalam diri kita. Biarkan orang lain bersikap apatis terhadap kita, tidak perduli, mengabaikan serta menganggap remeh apa yang kita ciptakan, bahkan menentang apa yang kita lakukan. Acuhkan sorotan miring bahwa AKTIVIS KAMPUS adalah calon-calon mahasiswa abadi di kampus, abaikan anggapan bahwa berorganisasi akan mengganggu aktifitas kuliah. Sesungguhnya kita lah yang beruntung dan kita patut bangga karena kita lah yang mendapatkan semua-nya dari ilmu, pengalaman dan wawasan.

Teman – teman pengurus yang saya banggakan.

Presiden RI pertama, Dr. Soekarno pernah berkata ; Jangan Tanyakan Apa Yang Bangsa Dan Negara Ini Berikan Kepadamu Tapi Tanyakan Apa Yang Telah Kau Berikan Kepada Bangsa Dan Negara Ini. Pengabdian kita kepada Bangsa ini mungkin tidak pernah dapat dibanggakan. Tapi dengan organisasi PENGABDIAN KECIL ini kita mulai. Dengan selalu berusaha melakukan yang terbaik bagi orang lain berarti kita berusaha mengabdikan diri kepada Bangsa dan Negara. Jika orang lain bisa menjadi lebih baik karena sesuatu yang kita lakukan berarti kita telah menjadi orang yang bermanfaat dan berguna bagi Bangsa ini. Organisasi juga akan menempa diri kita menjadi manusia yang sesungguhnya serta mempersiapkan diri kita untuk terjun kedunia masyarakat. Semoga pengabdian kecil ini bagaikan sungai Adn yang bisa melepaskan dahaga bagi penduduk yang berada diatasnya.

Demikianlah yang dapat saya sampaikan, semoga kedepannya kita menjadi lebih baik dan menjadi manusia yang berguna dan berarti bagi diri kita sendiri, keluarga, masyarakat, bangsa, dan Negara ini. Tidak banyak yang dapat kami berikan bagi HMJ dan PGSD selama kepemimpinan saya, dan mudah-mudahan hal ini dapat diperbaiki oleh kepengurusan HMJ PGSD berikutnya. Perjalanan ini masih panjang sobat, dan jangan kita berhenti ditengah jalan karena sesuatu yang  tidak seharusnya mematikan langkah dan perjalanan kita….

Akhir kata Wassalamu’alaikum Wr…..Wb…

HIDUP MAHASISWA SEJATI

Picture 0056

Salam Perjuangan

Ketua HMJ PGSD 08-09

Hakim Surya Putra

Musyawarah Besar HMJ PGSD

Juli 8, 2009

meeting_cartoon

Pada tanggal 3-4 juli 2009 HMJ PGSD telah melaksanakan Musyawarah Besar (MUBES) yang bertempat di Aula UKM-FORMASI (Forum Mahasiswa Muslim) PGSD FKIP UNTAN. Acara yang berlangsung selama 2 hari tersebut dihadiri oleh ketua jurusan pendidikan dasar, ketua prodi pgsd, seksi kemahasiswaan dan pengurus serta calon pengurus hmj pgsd fkip untan.

Adapun hal-hal yang dibahas dalam musyawarah besar HMJ PGSD FKIP UNTAN adalah:

1. Pertanggung jawaban program kerja pengurus hmj pgsd periode 2008-2009

2. Melakukan perbaikan/ revisi terhadap GBHO, AD/ART, dan Tata tertib MUBES

3. Pelantikan secara simbolis Oktoriyadi sebagai ketua HMJ-PGSD periode 2009-2010

4. Penjabaran mengenai susunan kepengurusan HMJ-PGSD 09-10 beserta fungsi dan tugasnya

5. Menetapkan program kerja HMJ-PGSD periode 2009-2010

6. Wacana mengenai pembentukan UKM baru yang bergerak dibidang penelitian, pengkajian, dan penulisan ilmiah mahasiswa dabawah HMJ-PGSD FKIP UNTAN

Dalam pelaksanaan mubes tersebut kami mengalami beberapa hambatan yang sedikit banyak berpengaruh pada pelaksanaan musyawarah besar diantaranya adalah sedikitnya mahasiswa yang hadir dikarenakan pelaksanaan mubes pada saat libur semester, dipakainya ruangan kelas untuk ujian mahasiswa non reguler terpaksa membuat kami mengalihkan tempat pelaksanaan mubes tersebut, serta anggaran yang minim serta kurangya persiapan membuat pelaksanaan mubes tersebut dilakukan secara sederhana. Namun, bagai manapun kondisinya kami bertekat bahwa MUBES harus terlaksana walaupun dengan segala keterbatasan kami tetap berusaha melaksanakan mubes dengan sebaik-baiknya.

Dan alhamdulilah.. MUBES selama dua hari tersebut berjalan dengan lancar walaupun tidak dapat dipungkiri masih terdapat sedikit kesalahan teknis dalam pelaksanaanya, hal tersebut dikarenakan kurangnya pengalaman dan persiapan anggota dan pelaksana mubes yang sebagian besar merupakan pengurus baru di HMJ PGSD FKIP UNTAN. Tentunya hal tersebut kami jadikan sebagai bahan evaluasi dan persiapan pengurus dalam menjalankan tugasnya di HMJ PGSD kedepanya sehingga pada kepengurusan yang baru dapat memperoleh hasil yang maksimal dan tentunya lebih baik dari pada kepengurusan hmj pgsd sebelumnya. Amin…

Ditulis oleh: Nurlyanto (Presidium MUBES HMJ PGSD)

ANTARA PENDIDIKAN KARAKTER DAN KARAKTER PENDIDIKAN

Juli 1, 2009

windowslivewriterironiharipendidikannasionalindonesia-7317sekolah-2“Pendidikan karakter” atau “character building”, menjadi tema yang sangat akrab di ruang-ruang seminar, lokakarya maupun workshop yang digelar di hampir seluruh wilayah Kalimantan Barat atau bahkan pelosok negeri, terutama pasca digulirkannya UU Guru dan Dosen Nomor 14 Tahun 2005. dan masih banyak lagi tema lain yang tidak kalah menarik, yang kesemuanya merupakan konsep dan wacana pendidikan yang sangat brilian, sehingga tidak sedikit dari kalangan pendidik sebagai peserta seminar, lokakarya maupun workshop yang seakan terhipnotis untuk dapat segera mengaplikasikan konsep-konsep dan wacana tersebut ke dalam proses pembelajaran. Di sisi lain tidak sedikit pula peserta yang memilih melewati seminar, lokakarya maupun workshop sebagai sebuah protokoler demimendapat selembar sertifikat belaka.

Tentu yang demikian bukan sesuatu yang diharapkan dari sebuah seminar atau apapun namanya itu. Namun, apa mau dikata jika realitanya demikian? Karena pertanyaannya, apa mungkin lokakarya atau workshop itu bisa berjalan secara efektif (sampai pada tahap perumusan kesimpulan untuk direkomendasikan) jika perbandingan antara jumlah peserta dengan kapasitas ruangan menunjukkan keadaan yang tidak representatif? Adalah sesuatu yang nyaris impossible untuk bisa berjalan sebagaimana yang diharapkan jika sebuah forum, melibatkan 300 hingga 600 peserta, terlebih dengan narasumber yang terbatas dari segi kuantitas maupun kualitasnya. Bahkan kesan yang timbul adalah demikian kentalnya unsur “komersialisme” di balik penyelenggaraan seminar, lokakarya maupun workshop. Karena setidaknya, penyelenggara bisa membatasi jumlah peserta jika memang menghendaki lokakarya/workshop bisa berjalan lebih kondusif dengan segala hasilnya. Padahal penyelenggara sudah jelas dari lingkungan pendidikan atau minimal LSM yang mengklaim peduli terhadap pendidikan. Dari sini jelas, tanpa disadari baik dari sisi penyelenggara maupun peserta telah dapat terpotret “sebuah karakter” tegasnya “bagian dari karakter pendidikan kita”, karena baik forum, topik masalah maupun pihak yang terlibat di dalamnya adalah bagian dari komponen pendidikan. Penyelenggra yang cenderung sengaja membludagkan peserta demi kepentingan komersial atau peserta yang cenderung hanya mengejar sertifikat demi nilai poin portopolio dalam sertifikasi, jelas menunjukkan karakter yang menyimpang karena seharusnya karakter yang ada adalah penyelenggara yang mengutamakan proses serta hasil secara substansial. Begitu pun karakter peserta yang seharusnya memilih aktif melibatkan diri dalam proses seminar, lokakarya maupun workshop, hingga sampai pada tahap aplikasinya di lapangan.

Di sisi lain, adanya kecenderungan membocorkan soal atau kunci jawaban UAN oleh sejumlah oknum dari dunia pendidikan demi pencapaian prosentase kelulusan di wilayahnya, adanya kecenderungan masyarakat (orang tua / wali murid) menempuh jalan pintas demi kelulusan putra-putrinya sampai pada adanya kecenderungan siswa mempercayai sms-sms menyesatkan. Hal itu menunjukka UAN sebagai “monster” yang menakutkan sehingga lagi-lagi ditempuh berbagai cara demi mendapatkan label “lulus”. Dengan demikian, menambah lagi panjang daftar “karakter menyimpang” dari dunia pendidikan kita. Belum lagi, dampak dari pengumuman kelulusan itu sendiri, seperti berupa; stres, histeria, bahkan bunuh diri yang dialami dan dilakukan oleh siswa yang tidak lulus. Pertanyaannya adalah, apakah benar, UAN dengan SKLnya merupakan upaya yang tepat untuk sekedar kepentingan standardisasi Nasional, jika realitanya demikian terasa memvonis anak bangsa? Memvonis karena perjuangan dan keluh kesah siswa selama kurang lebih 3 tahun dengan indeks prestasi “memuaskan” untuk setiap bidang studi selama ini menjadi sia-sia tatkala karena sesuatu hal “lebih karena teknis LJK” maka terpaksa harus menerima pahitnya “label tidak lulus” dan pada akhirnya justru label lulus diperoleh dari ujian paket yang mau tidak mau mempengaruhi kelancaran mereka dalam menempuh pendidikan lebih lanjut termasuk juga mempengaruhi nasib mereka dalam memasuki dunia kerja. Padahal belum tentu mereka tidak cerdas, demikian pula halnya bagi mereka yang lulus UAN yang ternyata tidak juga menjamin untuk bisa mask ke sekolah / pendidikan tinggi unggulan terlebih ke dunia kerja yang prospektif.

belajar

Hal itu membuktikan bahwa faktor keberuntungan masih terbuka dalam penyelenggaraan UAN dengan bentuk soal yang “multiple choice” itu. Maka pertanyaannya kemudian adalah, haruskah “standardisasi Nasional” menjadi sesuatu yang yang selalu naif serta memilukan dan berujung dengan dinginnya tembok-tembok penyelenggaraan ujian paket demi menyandang label lulus? Sementara seminar, lokakarya maupun workshop selelu menjadi hal lain yang hanya hangat dalam pembahasan dan penyelenggaraan, namun selalu dingin dan beku dalam penerapan karena indahnya konsep-konsep pendidikan yang “brilian” ternyata tidak pernah mampu menembus kerasnya dinding-dinding gedung tempat digodognya sistem serta ukuran keberhasilan pendidikan Nasional kita.

Padahal tidak sedakit masyarakat/orang tua murid yang entah sampai kapan harus merindukan suatu sistem dan ukuran keberhasilan pendidikan yang lebih protektif terhadap minat dan bakat anaknya. Maka pertanyaannya adalah, tidak cukupkah KTSP sebagai penyempurnaan dari KBK yang selayaknya mampu menerjemahkan minat dan bakat peserta didik sejak dini untuk kemudia dibina semaksimal mungkin, sebagai bidang kompetensinya? Sehingga dengan demikian, efektivitas serta efisiensi pendidikan akan lebih bisa dirasakan. Barangkali kita sepakat bahwa standardisasi Nasional merupakan sesuatu yang sangat dibutuhkan sebagai tolok ukur keberhasilan pendidikan kita. Namun kiranya perlu formulasi sistem serta ukuran keberhasilan pendidikan yang tidak hanya menekankan “hasil kuantitatif” hanya pada bidang-bidang akademis melainkan perlu rumusan sistem serta ukuran keberhasilan yang protektif terhadap “esensi proses” serta nilai sikap (kualitatif) termasuk pada bidang-bidang non akademis yang selama ini “teranaktirikan” atau “termarjinalkan”. Hal ini penting, jika kita menginginkan terbentuknya karakter bangsa sebagaimana tersirat dalam konsep-konsep dan wacana pendidikan di ruang-ruang seminar, lokakarya maupun workshop yang sejatinya mengakui bahwa kontribus IQ terhadap keberhasilan hidup anak manusia hanya sebesar 20%, sedang selebihnya ditentukan oleh EQ dan SQ.

Oleh karena itu, seyogianya, dunia pendidikan Nasional kita bisa merumuskan kembali sistem serta ukuran keberhasilan yang lebih representatif, serta sedapat mungkinmenghindari faktor keberuntungan, serta bisa lebih protektif terhadap berkembangnya kecerdasan yang komprehensif dan holistik. Mengingat pendidikan hanya akan bisa dikatakan berhasl jika mampu mencetak manusia yang cerdas secara IQ, EQ, SQ, serta cerdas dalam skill yang sangat dibutuhkan untuk bisa hidup layak di zamannya.

Presented by Pradhani Khatulistyaningrum

Bagian Akademik Ilmiah

Penelitian dan Pengembangan

HMJ PGSD FKIP UNTAN PONTIANAK