Skip to content

ANTARA PENDIDIKAN KARAKTER DAN KARAKTER PENDIDIKAN

Juli 1, 2009

windowslivewriterironiharipendidikannasionalindonesia-7317sekolah-2“Pendidikan karakter” atau “character building”, menjadi tema yang sangat akrab di ruang-ruang seminar, lokakarya maupun workshop yang digelar di hampir seluruh wilayah Kalimantan Barat atau bahkan pelosok negeri, terutama pasca digulirkannya UU Guru dan Dosen Nomor 14 Tahun 2005. dan masih banyak lagi tema lain yang tidak kalah menarik, yang kesemuanya merupakan konsep dan wacana pendidikan yang sangat brilian, sehingga tidak sedikit dari kalangan pendidik sebagai peserta seminar, lokakarya maupun workshop yang seakan terhipnotis untuk dapat segera mengaplikasikan konsep-konsep dan wacana tersebut ke dalam proses pembelajaran. Di sisi lain tidak sedikit pula peserta yang memilih melewati seminar, lokakarya maupun workshop sebagai sebuah protokoler demimendapat selembar sertifikat belaka.

Tentu yang demikian bukan sesuatu yang diharapkan dari sebuah seminar atau apapun namanya itu. Namun, apa mau dikata jika realitanya demikian? Karena pertanyaannya, apa mungkin lokakarya atau workshop itu bisa berjalan secara efektif (sampai pada tahap perumusan kesimpulan untuk direkomendasikan) jika perbandingan antara jumlah peserta dengan kapasitas ruangan menunjukkan keadaan yang tidak representatif? Adalah sesuatu yang nyaris impossible untuk bisa berjalan sebagaimana yang diharapkan jika sebuah forum, melibatkan 300 hingga 600 peserta, terlebih dengan narasumber yang terbatas dari segi kuantitas maupun kualitasnya. Bahkan kesan yang timbul adalah demikian kentalnya unsur “komersialisme” di balik penyelenggaraan seminar, lokakarya maupun workshop. Karena setidaknya, penyelenggara bisa membatasi jumlah peserta jika memang menghendaki lokakarya/workshop bisa berjalan lebih kondusif dengan segala hasilnya. Padahal penyelenggara sudah jelas dari lingkungan pendidikan atau minimal LSM yang mengklaim peduli terhadap pendidikan. Dari sini jelas, tanpa disadari baik dari sisi penyelenggara maupun peserta telah dapat terpotret “sebuah karakter” tegasnya “bagian dari karakter pendidikan kita”, karena baik forum, topik masalah maupun pihak yang terlibat di dalamnya adalah bagian dari komponen pendidikan. Penyelenggra yang cenderung sengaja membludagkan peserta demi kepentingan komersial atau peserta yang cenderung hanya mengejar sertifikat demi nilai poin portopolio dalam sertifikasi, jelas menunjukkan karakter yang menyimpang karena seharusnya karakter yang ada adalah penyelenggara yang mengutamakan proses serta hasil secara substansial. Begitu pun karakter peserta yang seharusnya memilih aktif melibatkan diri dalam proses seminar, lokakarya maupun workshop, hingga sampai pada tahap aplikasinya di lapangan.

Di sisi lain, adanya kecenderungan membocorkan soal atau kunci jawaban UAN oleh sejumlah oknum dari dunia pendidikan demi pencapaian prosentase kelulusan di wilayahnya, adanya kecenderungan masyarakat (orang tua / wali murid) menempuh jalan pintas demi kelulusan putra-putrinya sampai pada adanya kecenderungan siswa mempercayai sms-sms menyesatkan. Hal itu menunjukka UAN sebagai “monster” yang menakutkan sehingga lagi-lagi ditempuh berbagai cara demi mendapatkan label “lulus”. Dengan demikian, menambah lagi panjang daftar “karakter menyimpang” dari dunia pendidikan kita. Belum lagi, dampak dari pengumuman kelulusan itu sendiri, seperti berupa; stres, histeria, bahkan bunuh diri yang dialami dan dilakukan oleh siswa yang tidak lulus. Pertanyaannya adalah, apakah benar, UAN dengan SKLnya merupakan upaya yang tepat untuk sekedar kepentingan standardisasi Nasional, jika realitanya demikian terasa memvonis anak bangsa? Memvonis karena perjuangan dan keluh kesah siswa selama kurang lebih 3 tahun dengan indeks prestasi “memuaskan” untuk setiap bidang studi selama ini menjadi sia-sia tatkala karena sesuatu hal “lebih karena teknis LJK” maka terpaksa harus menerima pahitnya “label tidak lulus” dan pada akhirnya justru label lulus diperoleh dari ujian paket yang mau tidak mau mempengaruhi kelancaran mereka dalam menempuh pendidikan lebih lanjut termasuk juga mempengaruhi nasib mereka dalam memasuki dunia kerja. Padahal belum tentu mereka tidak cerdas, demikian pula halnya bagi mereka yang lulus UAN yang ternyata tidak juga menjamin untuk bisa mask ke sekolah / pendidikan tinggi unggulan terlebih ke dunia kerja yang prospektif.

belajar

Hal itu membuktikan bahwa faktor keberuntungan masih terbuka dalam penyelenggaraan UAN dengan bentuk soal yang “multiple choice” itu. Maka pertanyaannya kemudian adalah, haruskah “standardisasi Nasional” menjadi sesuatu yang yang selalu naif serta memilukan dan berujung dengan dinginnya tembok-tembok penyelenggaraan ujian paket demi menyandang label lulus? Sementara seminar, lokakarya maupun workshop selelu menjadi hal lain yang hanya hangat dalam pembahasan dan penyelenggaraan, namun selalu dingin dan beku dalam penerapan karena indahnya konsep-konsep pendidikan yang “brilian” ternyata tidak pernah mampu menembus kerasnya dinding-dinding gedung tempat digodognya sistem serta ukuran keberhasilan pendidikan Nasional kita.

Padahal tidak sedakit masyarakat/orang tua murid yang entah sampai kapan harus merindukan suatu sistem dan ukuran keberhasilan pendidikan yang lebih protektif terhadap minat dan bakat anaknya. Maka pertanyaannya adalah, tidak cukupkah KTSP sebagai penyempurnaan dari KBK yang selayaknya mampu menerjemahkan minat dan bakat peserta didik sejak dini untuk kemudia dibina semaksimal mungkin, sebagai bidang kompetensinya? Sehingga dengan demikian, efektivitas serta efisiensi pendidikan akan lebih bisa dirasakan. Barangkali kita sepakat bahwa standardisasi Nasional merupakan sesuatu yang sangat dibutuhkan sebagai tolok ukur keberhasilan pendidikan kita. Namun kiranya perlu formulasi sistem serta ukuran keberhasilan pendidikan yang tidak hanya menekankan “hasil kuantitatif” hanya pada bidang-bidang akademis melainkan perlu rumusan sistem serta ukuran keberhasilan yang protektif terhadap “esensi proses” serta nilai sikap (kualitatif) termasuk pada bidang-bidang non akademis yang selama ini “teranaktirikan” atau “termarjinalkan”. Hal ini penting, jika kita menginginkan terbentuknya karakter bangsa sebagaimana tersirat dalam konsep-konsep dan wacana pendidikan di ruang-ruang seminar, lokakarya maupun workshop yang sejatinya mengakui bahwa kontribus IQ terhadap keberhasilan hidup anak manusia hanya sebesar 20%, sedang selebihnya ditentukan oleh EQ dan SQ.

Oleh karena itu, seyogianya, dunia pendidikan Nasional kita bisa merumuskan kembali sistem serta ukuran keberhasilan yang lebih representatif, serta sedapat mungkinmenghindari faktor keberuntungan, serta bisa lebih protektif terhadap berkembangnya kecerdasan yang komprehensif dan holistik. Mengingat pendidikan hanya akan bisa dikatakan berhasl jika mampu mencetak manusia yang cerdas secara IQ, EQ, SQ, serta cerdas dalam skill yang sangat dibutuhkan untuk bisa hidup layak di zamannya.

Presented by Pradhani Khatulistyaningrum

Bagian Akademik Ilmiah

Penelitian dan Pengembangan

HMJ PGSD FKIP UNTAN PONTIANAK

9 Komentar leave one →
  1. arnita permalink
    Februari 19, 2010 4:52 am

    tolong jelaskan tentang pendidikan karakter lebih lanjut lagi. makasih. hubungi saya di arnitoteles@yahoo.co.id

  2. pradhani khatulistyaningrum permalink
    Desember 16, 2009 4:03 am

    tolong sgera d pasang d mading kmpus PGSD, khusus kepada Nurlyanto.

    • Hery Pejeje permalink
      Desember 29, 2009 1:40 am

      tulisan yang menarik, tolong diingat etika penulisan sebuah artikel, jika itu merupakan sebuah saduran/copy paste, maka cantumkan nama penulis asli artikel dan sumber anda memperoleh artikel tersebut, jika itu merupakan sebuah rangkuman dari berbagai artikel (kompilasi), maka cantumkan juga keberadaan sumbernya secara lengkap. Jika anda mengutip tulisan orang maka cantumkan juga sumber kutipan tersebut. So……jika saya punya 10 jempol, maka ke sepuluh jempol tersebut khusus untuk anda

  3. Juli 28, 2009 4:49 am

    artikelnya sangat menarik. salut untuk creator. kl boleh saya hendak memposting tulisan anda di blog saya. mohon persetujuannya. blog saya tentang pendidikan, silahkan buka edu-peduli.blogspot.com

    terimakasih

    • hmjpgsd permalink*
      Juli 30, 2009 12:08 pm

      boleh saja asalkan sumber dan pengarangnya juga di sertakan dalam postingan anda.. OK

      • pradhani khatulistyaningrum permalink
        Desember 29, 2009 4:39 am

        terimakasih. Untuk selanjutnya, saya akan mencantumkan sumber-sumber yang saya ambil. Terimakasih sekali lagi atas masukan yang diberikan.

  4. Juli 18, 2009 6:43 am

    Tulisan yang sangat menarik, kritis serta membangun…. trim’s

  5. Juli 10, 2009 9:11 am

    Informasi yang sangat menarik, trim’s

  6. PoNNie permalink
    Juli 10, 2009 1:45 am

    Semoga HMJ PGSD dapat memberikan dorongan dan semangat seluruh rekan mahasiswa untuk terus menggali potensi tidak hanya dalam bidang akademis, tetapi juga dalam non akademis, sehingga PGSD dapat mencetak lulusan-lulusan yang tidak hanya cerdas, tetapi juga kreatif, atraktif, berakhlaq mulia dan berbudi pekerti luhur. Amien

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: