Skip to content

Kembalikan Ruh Ibu sebagai Guru Sejati dalam Pembentukan Karakter Anak

Februari 23, 2010

Puluhan siswa SMK Budi Utomo, ditanglap polisi saat sebelum melakukan tawuran dengan SMA Fransiskus, di jalan Dr. Soetomo, Jakarta Pusat Jum’at ( OkeZone, 20 Februari 2009). Di Bandung anak-anak muda dengan bangga menjadi anggota geng motor, seolah-olah tiadk ada penyaluran lain yang positif untuk aktualisasi kaum muda. Kemudian, data Republika Online (6/8/09), hingga Maret 2009, di Jawa Barat, penderita terbanyak HIV/AIDS adalah usia produktif. Dari 4.520 kasus, 2.573 adalah mereka berusia antara 20-29 tahun, 90 kasus berusia 15- 19 tahun. Sebanyak 66 % penularannya melalui jarum suntik narkoba. Sisanya melalui transmisi seksual dan penularan oleh ibu ke anaknya. Data tersebut konsisten dalam kondisi yang relatif sama. Artinya diperlukan peningkatan intensitas gerakan untuk memeranginya. Tentu tidak ada orang apalagi seorang ibu menginginkan anaknya terlibat dengan kasus itu, apalagi menularkan HIV/AIDS kepada anak kandungnya sendiri, meski sudah ada kasus seperti ini. Yang sangat ironis, pengguna narkoba masih usia remaja yang memerlukan pendampingan dan pengawasan orang tua. Tampaknya, penanganan kasus ini memerlukan gerakan yang simultan dari semua komponen potensial. Ibarat penyakit, diperlukan diagnosa yang akurat sehingga obatnya juga ampuh.

Dewasa ini, kita memang telah mengenal adanya potensi EQ (kecerdasan emosi) yang dipopulerkan oleh Dan Goleman. Juga ada SQ (kecerdasan spiritual) yang dibahas secara menarik oleh Danah Zohar dan Ian Marshall. Lantas ada pula kecerdasan majemuk (multiple intelligences) yang ditemukan Howard Gardner. Betapa kayanya potensi anak didik jika merujuk ke temuan-temuan itu?

Jika sekolah hanya menekankan pengembangan kognitif, betapa sayangnya upaya-upaya yang dilakukan oleh pendidikan kita. Mungkin, kata “holistik” yang digunakan bertujuan agar pendidikan benar-benar dapat menggarap seluruh potensi anak didik yang ada ya? Lantas, apa itu karakter?

Menurut Wynne, istilah karakter diambil dari bahasa Yunani yang berarti ‘to mark’ (menandai). “Istilah ini lebih fokus pada tindakan atau tingkah laku. Wynne mengatakan bahwa ada dua pengertian tentang karakter. Pertama, ia menunjukkan bagaimana seseorang bertingkah laku. Apabila seseorang berperilaku tidak jujur, kejam, atau rakus, tentulah orang tersebut memanifestasikan perilaku buruk. Sebaliknya, apabila seseorang berperilaku jujur, suka menolong, tentulah orang tersebut memanifestasikan karakter mulia. Kedua, istilah karakter erat kaitannya dengan ‘personality’. Seseorang baru bisa disebut ‘orang yang berkarakter’ (a person of character) apabila tingkah lakunya sesuai kaidah moral.”

Domain pendidikan yang dialami anak atau siapa saja hanya empat. Pertama, keluarga sebagai basis utama dan awal mula pendidikan bagi anak. Tentu Guru yang sejati di rumah adalah ibu anak-anak. Kedua, sekolah dengan guru sebagai pendidik yang membimbing, melatih dan mengarahkan anak, bukan sekedar belajar bidang studi. Ketiga, anak juga seyogianya memperoleh pendidikan pada masyarakat. Suasana sekolah sebaiknya tidak berbeda dengan suasana di masyarakat agar anak dapat menginternalisasi nilai sekolah dan nilai masyarakat. Keempat, tempat bekerja, instansi, perusahaan dan lain sebagainya juga tempat pendidikan.

Jika keempat domain ini tidak ditata simultan maka sangat sulit untuk mendorong pendidikan sebagai pilar perbaikan moral dan daya saing bangsa. Jika pendidikan negeri ini ingin kuat dan berhasil dalam arti komprehensif maka (1) kembalikan para ibu menjadi guru sejati bagi anak-anaknya, (2) hadirkan guru di sekolah, bukan sekedar pengajar bidang studi, (3) ciptakan suasana yang kondusif di masyarakat lewat kekuasaan para pemegang mandat publik, dan (4) bersihkan seluruh instansi dan lembaga manapun dari praktik-praktik anti pendidikan. Jika jenjang karir di instansi tidak berbasis kompetensi, inilah yang secara nyata mengancam pilar-pilar pendidikan.

Peran ibu jaman sekarang berbeda dengan jaman Kartini. Peran ibu jaman Kartini hanya sebagai koncho wingking sedangkan jaman sekarang multiperan yaitu sebagai ibu rumah tangga, peran sebagai anggota masyarakat, serta peran sebagai wanita karier. Peran sebagai ibu rumah tangga merupakan peran utama dan pertama khususnya dalam hal mendidik putra putrinya di masa balita dan tingkat sekolah dasar. Hal ini penting karena sebagai landasan di masa mendatang. Ibu merupakan figur pengemban tugas penting yang tidak dapat tergantikan, yakni sebagai pengatur rumah tangga. Ibu adalah satu sosok mulia yang penuh jasa bagi manusia. Di dalam tubuhnyalah embrio-embrio manusia telah bersarang selama kurang lebih 9 bulan, sebelum akhirnya terlahir ke dunia. Melalui rahimnyalah, generasi-generasi manusia terlahir. Melalui air susunyalah, manusia mendapatkan asupan makanan terbaik dan bergizi di awal kehidupannya.

Begitu banyak peran vital seorang ibu yang tidak bisa digantikan oleh laki-laki, maka tak salah kalau ibu merupakan satu sosok yang patut dimuliakan. Selain mengandung, melahirkan, dan menyusui, seorang ibu juga memiliki kewajiban untuk memberikan pendidikan kepada anak sejak usia dini. Ibu merupakan sekolah pertama bagi anak. Hal ini karena interaksi pertama yang dilakukan oleh seorang anak adalah dengan seorang ibu. Ibu merupakan sosok yang pertama kali memberikan perlindungan dan rasa aman kepada seorang anak. Dan ibu pulalah yang pertama kali dipatuhi oleh seorang anak, karena ibu memberikan rasa nyaman kepada anaknya. Di sini dapat terlihat kembali betapa besarnya peranan seorang ibu dalam pembentukan karakter masa depan seorang anak. Dan artinya, seorang ibu memiliki peranan besar dalam pembentukan masa depan suatu bangsa dan negara. Karena, anak merupakan cikal bakal yang akan membawa masa depan suatu bangsa dan negara.

Seorang ibu mampu menjadi guru jika dikembalikan menjadi mahluk yang berilmu, lembut, dan penuh kesabaran. Tidak wajar memerangi poligami, sementara banyak wanita yang diperlakukan tidak wajar bahkan berprofesi tidak wajar tidak digubris maksimal. Mungkin lembaga manapun yang mengklaim irinya sebagai pejuang perempuan, gerakan mengembalikan ibu kandung menjadi guru bagi anaknya adalah jauh lebih penting dari pada memperjuangkan persamaan gender yang nyaris meminimumkan perannya sebagai guru anak-anaknya.

Persamaan gender amat tidak relevan manakala gerakan itu akan menipiskan peran ibu sebagai mahluk lembut yang dapat menaklukkan kenakalan seorang anak. Kenakalan yang potensial menjadi kejahatan tidak dapat ditangani dengan pendekatan hukum, tetapi hanya dengan kasih sayang dan kelembutan hati serta kesabaran seorang Ibu.

Bangsa yang kuat adalah bangsa yang memiliki wanita yang kuat, khususnya sebagai ibu-ibu yang sejati. Tentu masih banyak Ibu yang memerankan dirinya sebagai guru bagi anak-anaknya. Tetapi juga adalah fakta yang tak terbantahkan, kejahatan yang dilakukan remaja sangat berkorelasi dengan hilangnya kendali kasih sayang seorang ibu kandung atas berbagai alasan yang disebutkan diatas.

Jika ingin negeri ini menjadi negeri yang kuat dan bermartabat, kembalikan Ibu menjadi mahluk berilmu yang lembut serta penuh kesabaran sebagai guru sejati bagi anak-anaknya. Sehingga Karakter anak-anak bangsa di masa depan menjadi dambaan setiap orang.

By: oktoriyadi

One Comment leave one →
  1. Akhmad Nur Sholikhin permalink
    April 5, 2010 4:36 am

    ya dari pada memperjuangkan kesetaraan gender yang belum jelas alasan dan tujuannya… memnding mengembalikan fitrah seorang Ibu menjadi seorang guru pertama bagi pendidikan anak-anaknya, lebih-lebih pendidikan moral. cukup mengagetkan dan ironis bahwa anak SMU telah berani mengata2kan guru nya dan menyebarkannya lewat salah satu media on line dan masih banyak lagi realitas-realitas amoral yang dilakukan oleh anak-anak usia SD/SMP/SMU. ini berarti pendidikan moral di negeri ini telah teracuni oleh budaya barat yang memang mempunyhai tujuan untuk merusak moral anak bangsa Indonesia. S-e-k-i-a-n

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: